April242011

tiga tahun penuh warna

Ternyata benar, warna bisa mencerminkan segalanya. Seperti tiga tahun terakhirku yang sangat mewarnai hidupku.

Warna putih (yang bersama abu-abu menemani hari-hariku menuntut ilmu selama tiga tahun kecuali hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, hehe), untuk segala keikhlasan yang mau tak mau harus dimiliki agar bisa tetap bertahan tanpa tekanan

Warna biru, untuk semua tetesan air mata yang mengalir apapun alasannya, dan bagaimana kita bisa kembali tersenyum (bahkan tertawa terbahak bahak) setelah itu

Warna kuning, untuk segala kebahagiaan yang diiringi gelak tawa dan canda yang terkadang tak tahu tempat, tak tahu diri, ataupun mengganggu ketentraman sekitar, tapi itu sangat sangat sangat menghibur dan, percayalah, menyehatkan!

Warna hijau, untuk kejenuhan dan rasa muak yang terkadang melanda dan membuat kita ingin berhenti saja, tapi guys ,hijau, artinya jalan terus :D

Warna cokelat, untuk segala makanan yang tak bisa dipungkiri menyatukan kita semua dalam kondisi apapun (haha)

Warna merah, untuk segala keberanian yang mengalahkan segala ketakutan, yang membuat kita struggling dalam menghadapi tiga tahun penuh cobaan ini

Warna oranye, untuk segala keresahan hati yang terkadang menghampiri, namun selalu ada cara, kita selalu bisa saja menemukan pegangan untuk menghilangkan keresahan atau kegundahan yang melanda

Warna merah jambu, untuk segala rasa cinta yang kita miliki, terkadang menyebabkan konflik, namun menyatukan segala rasa yang bercampur aduk tak keruan di dalamnya

Warna ungu, untuk kesendirian yang terkadang kita butuhkan, namun takkan bisa lama kita bertahan di dalam kesendirian itu karena kita memang tidak sendiri

Warna kelabu, untuk segala ketidakjelasan dan keabstrakan yang ada, hal-hal absurd yang justru membuat kita saling mengenal :D

Warna hitam yang kokoh, yang bisa menyatukan semua warna yang ada dalam kebersamaan kita dalam tiga tahun ini. Bersama-sama dengan warna emas, mencerminkan betapa berharga dan mulianya kita semua, apalagi setelah kita semua disatukan dalam Axivic Lunarismosinerati  :D

11AM
“ketika berada di titik terbawah, satu satunya jalan adalah menatap ke atas, berdoalah !” ranah 3 warna (dengan perubahan)
April232011

pilihan pertama

  • gue : gun, pilihan pertama lo nanti akun kan ya?
  • igun : nggak, pilihan pertama gue masuk surga
  • gue : -__-''
April212011
“there’s only one thing two do three words four you.. I LOVE YOU” plain white T’s, dedicated for my beloved axivic lunarismosinerati
9AM

nikinikari asked: ka bella ka bella yang lucuuuuu :DD oh ternyata banyak ya yang pada serius menulis disini. aku menulis serius di blogger aku. tumblr tempat cari inspirasi. hehe. tapi boleh juga tuh dicoba nulis serius disini. tumblr emang lebih gampang sih :D

ih sayang sayang ka bella >XD muah muah (?)

mau tahu kenapa? mau tahu kenapa? mau… lida bellafaransi?

halah.

berawal dari tugas sejarah yang mengharuskan kita membuat blog, sehingga akhirnya kita pun terlanjur jatuh cinta pada tumblr dan menulis aaaaapa saja di sini :D

*dibayar berapa dah sama tumblr

April162011
even during national examination :)

even during national examination :)

(Source: leilockheart)

2AM

tidak pesimis !

Sebelum saya mengetik tulisan ini, baru saja saya men-delete kurang lebih dua halaman word yang berjudul saya dan segala kepesimisan saya. Wow. Setelah saya baca, tulisan itu merupakan tulisan yang menjabarkan segaaaaaaala kegagalan saya. Miris banget deh bacanya. Lalu saya berpikir, mengapa saya bisa begitu nggak terima-nya terhadap suatu kegagalan, oke, banyak kegagalan. Kalau kata motivator-motivator klasik, Thomas Alfa Edison saja mengalami kegagalan sebanyak 9999 kali sebelum akhirnya menerangi dunia (siapa yang ngitung ya? Iseng aja..).

Sering kali kita stuck dalam suatu keadaan dimana kita sama sekali mandul. Maksudnya tidak menghasilkan apa-apa dalam hidup, merasa menjadi sampah yang tidak berguna. Kalau saya sih, ketika tiba-tiba ketika saya mau mengapply berkaske suatu universitas, saya sadar kalau saya sama sekali tidak punya prestasi. Bukan berarti saya tidak punya kelebihan lho, enak saja (gini-gini saya anggota paduan suara di sekolah *narsis mode always on). Prestasi yang ada piagamnya, nah itu saya mandul. Ngerti, kan? Terus gimana? Karena saya bener-bener nggak punya, apa saya harus nangis guling-guling? Kan nggak gitu juga kali ya bo,

Nah jika semuanya sudah terlanjur terjadi, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah… ikhlas. Ya elaaah, gitu doang? Percaya tidak percaya, SUSAH sekali untuk merasa ikhlas dan bersyukur terima apa adanya dengan dada yang lapang jreng. Apalagi kalau kita lihat teman-teman kita. Gondooooooooog. Hmm.. kayaknya tuh, mereka udah nyampe manaaaa… kita masih di sini-sini aje. Nggak apa-apa,

“anak panah pun harus mundur sesaat terlebih dahulu untuk kemudian melesat secepat angin”

Jadi ya udah. Tapi jangan keblinger dan sama sekali nggak usaha dalam kemunduran kita itu. Udah tahu kita ketinggalan, ya usaha lah. Optimalkan segala kesempatan yang ada, Oh iya, kita juga nggak perlu fokus. Maksudnya, nggak usah fokus sama satu buah kesempatan. Biar kalau yang satu gagal, kita masih bisa mencari celah di tempat lain, yang bidangnya nggak itu-itu doang. Lagian bosen. Kita masih muda, man! Mencari suatu hal yang baru itu bukanlah suatu kerugian. Halah.. kenapa jadi ngalor ngidul begini ngomongnya.

Terakhir, ternyata saya masih takut untuk bermimpi. Saya masih mempertimbangkan semua hal untuk bermimpi. Padahal, mimpi mah mimpi aja. Tinggal tidur. Hahaha.. nggak nggak, maksudnya ya gitu. Ya udah sih, nggak salah juga kalau gue pengen keliling dunia gitu. Tapi sekarang kan nggak punya duit! Ya iyalah, kalau punya mah udah dari kapan tau keliling dunianya. Kurang lebih gitu analoginya, iya ga? Nggak salah kan, kalau saya  berharap nilai UN matematika dan fisika saya 100 (WAJIB UCAPKAN AMIN BERSAMA-SAMA!), kalau beneran kan alhamdulillah. Maka dari itu saya akan berusaha sekuat mungkin untuk mengabulkan amin kalian yang tadi, Oke oke?

See ya !

March192011
“Failure is only a God’s way to say, “take another way” xanadu
March182011

Realita Pendidikan Kita

Negara ini sudah bobrok. Berantakan. Segala sesuatu tidak ada pada tempatnya. Hmm.. itu merupakan pembukaan pada cerpen buatan saya. Cerpen? Ya, sebenarnya ingin sekali saya post di sini namun naskah aslinya saya kumpulkan pada guru saya sebagai hasil ujian akhir praktek Bahasa Indonesia :P hehe.

Jadi ceritanya, tema yang saya angkat pada cerpen buatan saya adalah korupsi. Sebenarnya guru saya memberikan beberapa pilihan tema lain, namun entah mengapa saya tertarik sekali untuk mengangkat tema ini.

Berbagai fenomena seputar permainan uang (bukan monopoli lho) yang terjadi bahkan di sekitar kita, membuat saya hampir tidak percaya bahwa hal tersebut bisa terjadi. Yang paling parah adalah ketika permainan uang tersebut terjadi di dunia pendidikan. Ketika saya berpikir korupsi hanya bisa terjadi di sekitar orang-orang berdasi di gedung-gedung pencakar langit, ternyata tidak. Yah, walaupun nominal yang dimainkan tidak sebesar orang-orang berdasi itu sih. Korupsi itu memiliki nama lain, suap-menyuap. Ngek. Sama saja.

Ingin masuk sekolah tanpa tes? Bayar lebih bisa menjadi alternatif.

Malas ikut ulangan tapi takut nilainya kosong? Ingin lulus remedial tanpa repot? Tinggal bayar cicilan motor sang guru.

Begitulah. Belum lagi dana BOS yang tidak tersalurkan langsung ke yang memerlukan. Sekolah di dekat rumah saya lebih kacau lagi. Saya lupa, kalau tidak salah ada peraturan dimana sekolah-sekolah negeri seharusnya gratis karena mendapat dana BOS, kecuali sekolah berstandar internasional yabg dibolehkan memungut iuran karena dianggap … “istimewa”. Dan tahu apa yang terjadi? Sekolah-sekolah “bagus” yang tadinya hanya memiliki satu buah kelas berstandar internasional (lazim disebut RSBI), mendadak semua kelasnya berstandar internasional dan tak lagi memiliki kelas reguler. Geez. Hanya demi agar seluruh muridnya membayar iuran perbulan.

Guys. Ini pendidikan. Suatu aspek yang seharusnya dimajukan jika kita ingin bangsa kita maju. Pendidikannya saja sudah begini, apalagi yang lainnya? Apalagi ke depannya?

March22011
“Belajar sejarah itu mungkin tidak penting, tapi belajar dari sejarah itu yang paling penting” Pak Ipik :D